LAKSONO ARYUL WIBOWO 1525010124 AGROTEKNOLOGI B-25

PHT TANAMAN MELINJO

1. Kutu Lepidosaphes sp.

Lepidosaphes sp merupakan contoh organisme pengganggu tanaman melinjo yang penanganan secara alaminya tidak banyak dilakukan. Kutu ini menyukai bagian tanaman yang terlindung, terutama banyak dijumpai di bawah permukaan daun, sepanjang tulang daun. Serangga ini berukuran kecil, panjang 2-4 mm saat dewasa, tetapi mampu menyebabkan kerusakan dan kerugian yang besar dalam budidaya. Hal ini disebabkan kutu sisik mudah tersebar pada bagian-bagian tanaman kemudian menghisap nutrisi tanaman. Fase yang paling berpotensi untuk menyebabkan kerugian besar adalah saat kutu ini dalam fase crawler. Crawler merupakan fase hidup dari Lepidosaphes sp yang memiliki kaki dengan ukuran tubuh hanya sekitar 0,2 – 0,3 mm. Ukuran crawler yang sangat kecil menyebabkan akan dengan mudah disebarkan oleh angin atau hewan lain ke seluruh bagian tanaman atau ke tanaman lain. Terdapat beberapa cara dan metode yang biasa digunakan petani untuk mengendalikan populasi  Lepidosaphes sp. Penggunaan musuh alami berupa predator, patogen atau parasitoid, adalah salah satu metode yang mulai banyak dikembangkan. Pengendalian hama kutu Lepidosaphes sp secara terpadu dapat menggunakan musuh alami baik predator maupun parasitoid. Serangga musuh alami yang ditemukan melalui penelitian meliputi kelompok predator Famili Coccinellidae (Chilocorus, Symnus dan Harmonia) dan Formicidae. Bila diketahui bahwa hama yang menyerang tanaman adalah kutu Lepidosaphes sp, maka musuh alami tersebut boleh disebarkan untuk memburu kutu-kutu tersebut. Kelompok parasitoid dari hama ini adalah Famili Trichogrammatidae (Trichogramma) dan Aphelinidae (Aphytis dan Encarsia).
Trichogramma sp merupakan musuh alami dari hama Lepidosaphes sp , juga pada hama penggerek tebu dan jagung. Trichogramma sp ini salah satu parasitoid telur, artinya Trichogramma sp ini menyerang telur hama Lepidosaphes sp. Proses penyebaran atau aplikasi dari Trichogramma sp ini dengan menggunakan kertas pias. Trichogramma sp pengendali dari hama penggerek padi, bukan untuk memusnahkan.
Teknik implementasi dari pengendalian ini menggunakan kertas pias. Istilah Pias yang digunakan disini adalah suatu lembar kertas yang ditempeli sejumlah telur inang. Untuk kegiatan ini yang bahan dan alat yang digunakan adalah kertas manila, lem cair dan telur Corcyra sp. yang sudah bersih. Telur Corcyra sp ini sebagai inang bagi Trichogramma sp.
Cara Trichogramma sp mengendalikan OPT ini adalah Trichogramma sp terbang mencari kelompok telur penggerak yang masih baru untuk diparasit (memasukkan sel ke dalam kelompok telur dan makan isi telur, ketika habis menjadi dewasa, akan tebang dan mencari kelompok telur penggerak dan seterusnya).


·         2.  Tungau Merah

Tungau Merah adalah salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) dari kelompok hama yang dalam pengendaliannya juga memerlukan keterpaduan. Hama harus segera dikendalikan pada instar (periode tumbuh) hama seawal mungkin agar dengan mudah dapat dikendalikan. Pengendalian hama yang dilakukan pada instar dewasa sangat tidak efektif serta tidak ekonomis. Tubuh tungau berwarna merah dengan tungkai putih. Panjang tubuh sekitar 0,5 mm. Perkembangan dari telur hingga menjadi tungau dewasa berlangsung selama lebih kurang 15 hari. Telur diletakan di permukaan bawah daun. Warna telur kuning pucat dan berbentuk bulat dengan ukuran 0,15 mm. Pada musim kering, perkembangan populasi tungau sangat cepat. tungau menyerang tanaman dengan mengisap cairan daun sehingga daun berwarna kekuningan. Pada daun yang terserang akan dijumpai jaringan benang halus yang digunakan oleh tungau dewasa untuk berpindak ke daun lain yang masih segar dengan cara bergantung pada benang.
Pengendalian hayati yang efektif adalah pengendalian menggunakan ekstrak biji mimba sebagai pestisida nabati. Aplikasi ekstrak biji mimba dapat menyebabkan kematian tungau merah Tetranychus urticae. Biji mimba yang diekstrak dengan pelarut air (50 g/l) ditambah 0,5 ml perata/ha juga efektif menekan serangan tungau merah pada ubikayu dengan mortalitas 70% (Indiati 2004).

·        3. Penyakit Layu Pembuluh Bakteri



Penyakit layu yang disebabkan bakteri R. solanacearum pada melinjo, sangat merugikan karena menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen. Penyakit layu bakteri biasanya terjadi pada musim kemarau awal atau akhir musim hujan, dengan kondisi lahan masih lembab dan cuaca bersuhu hangat. Bakteri menginfeksi melalui luka mikro pada perakaran, selanjutnya menyebar dan berkembangbiak di dalam jaringan pembuluh batang. Selama proses biologisnya bakteri menghasilkan beberapa jenis enzim seperti pektinase, selulase, protease, serta menghasilkan eksopolisakarida (EPS). EPS adalah senyawa ekstraseluler dengan berat molekul tinggi, yang terdeposit dalam jaringan pembuluh dan menyumbat aliran air dari akar ke bagian atas tanaman. Penyumbatan tersebut menimbul gejala layu (Hayward 1995). Pada tingkat infeksi ringan, penyakit layu biasanya hanya nampak di sebagian cabang. Pada tingkat serangan parah, seluruh batang akan layu sistemik, tanaman mengering, berwarna kecoklatan dan akhirnya mati. Tanaman kacang tanah yang sakit biasanya tidak dapat sembuh (Mehan et al. 1994).
Pengendalian non-kimiawi terdiri beberapa komponen teknologi yang mudah diintegrasikan dalam sistem budidaya tanaman, seperti pemilihan jenis varietas tahan penyakit, teknis budidaya tanaman sehat, rotasi tanaman; serta pengendalian hayati menggunakan mikroba antagonis dan pengendalian nabati menggunakan ekstrak tumbuhan. Pestisida pengendali bakteri atau bakterisida pada umumnya diterapkan untuk pengendalian penyakit layu bakteri pada tanaman hortikultura. Hasil penelitian Asman dan Sitepu (1994) serta Asman (1996) menunjukkan bahwa aplikasi antibiotik streptomisin-sulfat cukup efektif menekan penyakit layu R. solanacearum pada tanaman aromatik nilam. Norman et al. (2006) menggunakan bahan kimia asam posporik untuk mengendalikan R. solanacearum, dan diketahui bahwa asam posporik mampu melindungi tanaman hias Pelargonium hortorum dari penyakit layu.
·         4. Gloeosporium sp. dan Colletotrichum sp. 
Gloeosporium sp.

Gejala tanaman melinjo yang terkena serangan Gloeosporium sp. adalah daun bercak coklat dengan pola bervariasi. Penggunaan mikroorganisme sebagai agen biokontrol merupakan alternatif yang berpotensi tinggi dalam menangani penyakit tanaman (Kulkarni et al. 2007). Trichoderma sp. merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agen biokontrol. Beberapa cendawan fitopatogen yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma sp. antara lain Fusarium spp., Lentinus Lepidus, Phytium spp., Botrytis cinerea, Gloeosporium gloeosporoides, Rigidoporus lignosis, Sclerotium roflsii, dan Phytopthora palminovora (Benitez et al. 2004; Sunantapongsuk et al. 2006; Zeilinger dan Omann 2007). 
Colletotrichum sp.

Penggunaan Trichoderma sp. sebagai agen biokontrol memiliki beberapa kelebihan, yaitu pertumbuhannya cepat, kapasitas reproduksi yang tinggi, spektrum penghambatan yang luas terhadap cendawan patogen, keragaman mekanisme penghambatan, kemampuan bertahan hidup yang tinggi dalam kondisi kurang nutrisi, dan menginduksi pertumbuhan tanaman (Benitez et al. 2004; Vinale et al. 2006).
Aplikasi Trichoderma sp terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Ditebar Saat Pengolahan Tanah
Ditebar bersama pupuk dasar (Pupuk Kandang) diatas lahan yang setengah jadi atau baru diolah. Dosisnya kurang lebih 500 Kg/ Ha atau pertanaman 20-25 gram. Dengan perlakuan tersebut harapannya adalah jamur-jamur yang menular melalui tanah (soil borne deseases) dapat dimatikan sebelum tanaman ditanam di lahan.

2. Menaburkan Pada Lubang Tanam
Aplikasi Trichoderma sp dengan menaburkan pada lubang tanam ini dilakukan saat pemindahan bibit yang akan ditanam dilahan. Setiap lubang diberikan Trichoderma sp dalam bentuk kapsul yang ditaburkan pada lubang tanam kemudian tanaman yang diusahakan ditanam pada lubang tersebut. Jaddi, Trichoderma sp secara tidaklangsung melindungi bagian akar tanaman agar tidak terserang penyakit khususnya yang disebabkan jamur yang menular mealui tanah.

3. Dikocor Pada Saat Menyiram Tanaman

Pengocoran dilakukan saat menyiram tanaman khususnya tanaman yang masih muda dan berumur 10 HST. Pemberian perlakuan ini dilakukan setiap 10 hari sekali selama 4 kali pemberian. Dosis yang digunakan adalah 5 gram/250 ml air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar