1. Kutu Lepidosaphes sp.
Lepidosaphes
sp merupakan contoh organisme pengganggu tanaman melinjo yang
penanganan secara alaminya tidak banyak dilakukan. Kutu ini menyukai bagian
tanaman yang terlindung, terutama banyak dijumpai di bawah permukaan daun,
sepanjang tulang daun. Serangga ini berukuran kecil, panjang 2-4 mm saat
dewasa, tetapi mampu menyebabkan kerusakan dan kerugian yang besar dalam
budidaya. Hal ini disebabkan kutu sisik mudah tersebar pada bagian-bagian
tanaman kemudian menghisap nutrisi tanaman. Fase yang paling berpotensi untuk
menyebabkan kerugian besar adalah saat kutu ini dalam fase crawler. Crawler
merupakan fase hidup dari Lepidosaphes sp yang memiliki kaki dengan
ukuran tubuh hanya sekitar 0,2 – 0,3 mm. Ukuran crawler yang sangat kecil
menyebabkan akan dengan mudah disebarkan oleh angin atau hewan lain ke seluruh
bagian tanaman atau ke tanaman lain. Terdapat beberapa cara dan metode yang
biasa digunakan petani untuk mengendalikan populasi Lepidosaphes sp. Penggunaan musuh alami
berupa predator, patogen atau parasitoid, adalah salah satu metode yang mulai
banyak dikembangkan. Pengendalian hama kutu Lepidosaphes sp secara
terpadu dapat menggunakan musuh alami baik predator maupun parasitoid. Serangga
musuh alami yang ditemukan melalui penelitian meliputi kelompok predator Famili
Coccinellidae (Chilocorus, Symnus dan Harmonia) dan Formicidae.
Bila diketahui bahwa hama yang menyerang tanaman adalah kutu Lepidosaphes sp,
maka musuh alami tersebut boleh disebarkan untuk memburu kutu-kutu tersebut. Kelompok
parasitoid dari hama ini adalah Famili Trichogrammatidae (Trichogramma) dan
Aphelinidae (Aphytis dan Encarsia).
Trichogramma
sp merupakan musuh alami dari hama Lepidosaphes sp , juga
pada hama penggerek tebu dan jagung. Trichogramma sp ini salah
satu parasitoid telur, artinya Trichogramma sp ini menyerang
telur hama Lepidosaphes sp. Proses penyebaran atau aplikasi dari Trichogramma
sp ini dengan menggunakan kertas pias. Trichogramma sp pengendali
dari hama penggerek padi, bukan untuk memusnahkan.
Teknik
implementasi dari pengendalian ini menggunakan kertas pias. Istilah Pias yang
digunakan disini adalah suatu lembar kertas yang ditempeli sejumlah telur
inang. Untuk kegiatan ini yang bahan dan alat yang digunakan adalah kertas
manila, lem cair dan telur Corcyra sp. yang sudah bersih.
Telur Corcyra sp ini sebagai inang bagi Trichogramma sp.
Cara Trichogramma
sp mengendalikan OPT ini adalah Trichogramma sp terbang
mencari kelompok telur penggerak yang masih baru untuk diparasit (memasukkan
sel ke dalam kelompok telur dan makan isi telur, ketika habis menjadi dewasa,
akan tebang dan mencari kelompok telur penggerak dan seterusnya).
· 2. Tungau
Merah
Tungau Merah adalah salah satu organisme pengganggu tanaman
(OPT) dari kelompok hama yang dalam pengendaliannya juga memerlukan keterpaduan.
Hama harus segera dikendalikan pada instar (periode tumbuh) hama seawal mungkin
agar dengan mudah dapat dikendalikan. Pengendalian hama yang dilakukan pada instar
dewasa sangat tidak efektif serta tidak ekonomis. Tubuh tungau berwarna
merah dengan tungkai putih. Panjang tubuh sekitar 0,5 mm. Perkembangan dari
telur hingga menjadi tungau dewasa berlangsung selama lebih kurang 15 hari.
Telur diletakan di permukaan bawah daun. Warna telur kuning pucat dan berbentuk
bulat dengan ukuran 0,15 mm. Pada musim kering, perkembangan populasi tungau
sangat cepat. tungau menyerang tanaman dengan mengisap cairan daun
sehingga daun berwarna kekuningan. Pada daun yang terserang akan dijumpai
jaringan benang halus yang digunakan oleh tungau dewasa untuk berpindak ke daun
lain yang masih segar dengan cara bergantung pada benang.
Pengendalian
hayati yang efektif adalah pengendalian menggunakan ekstrak biji mimba sebagai
pestisida nabati. Aplikasi ekstrak biji mimba dapat menyebabkan kematian tungau
merah Tetranychus urticae. Biji mimba yang diekstrak dengan pelarut air
(50 g/l) ditambah 0,5 ml perata/ha juga efektif menekan serangan tungau merah
pada ubikayu dengan mortalitas 70% (Indiati 2004).
· 3. Penyakit
Layu Pembuluh Bakteri
Penyakit layu yang disebabkan bakteri R. solanacearum pada melinjo, sangat merugikan karena menurunkan
kuantitas dan kualitas hasil panen. Penyakit layu bakteri biasanya terjadi pada
musim kemarau awal atau akhir musim hujan, dengan kondisi lahan masih lembab
dan cuaca bersuhu hangat. Bakteri menginfeksi melalui luka mikro pada
perakaran, selanjutnya menyebar dan berkembangbiak di dalam jaringan pembuluh
batang. Selama proses biologisnya bakteri menghasilkan beberapa jenis enzim
seperti pektinase, selulase, protease, serta menghasilkan eksopolisakarida
(EPS). EPS adalah senyawa ekstraseluler dengan berat molekul tinggi, yang
terdeposit dalam jaringan pembuluh dan menyumbat aliran air dari akar ke bagian
atas tanaman. Penyumbatan tersebut menimbul gejala layu (Hayward 1995). Pada
tingkat infeksi ringan, penyakit layu biasanya hanya nampak di sebagian cabang.
Pada tingkat serangan parah, seluruh batang akan layu sistemik, tanaman
mengering, berwarna kecoklatan dan akhirnya mati. Tanaman kacang tanah yang
sakit biasanya tidak dapat sembuh (Mehan et al. 1994).
Pengendalian
non-kimiawi terdiri beberapa komponen teknologi yang mudah diintegrasikan dalam
sistem budidaya tanaman, seperti pemilihan jenis varietas tahan penyakit,
teknis budidaya tanaman sehat, rotasi tanaman; serta pengendalian hayati
menggunakan mikroba antagonis dan pengendalian nabati menggunakan ekstrak
tumbuhan. Pestisida pengendali bakteri atau bakterisida pada umumnya diterapkan
untuk pengendalian penyakit layu bakteri pada tanaman hortikultura. Hasil
penelitian Asman dan Sitepu (1994) serta Asman (1996) menunjukkan bahwa
aplikasi antibiotik streptomisin-sulfat cukup efektif menekan penyakit layu R.
solanacearum pada tanaman aromatik nilam. Norman et al. (2006) menggunakan
bahan kimia asam posporik untuk mengendalikan R. solanacearum, dan diketahui
bahwa asam posporik mampu melindungi tanaman hias Pelargonium hortorum dari
penyakit layu.
· 4. Gloeosporium
sp. dan Colletotrichum sp.
![]() |
| Gloeosporium sp. |
Gejala
tanaman melinjo yang terkena serangan Gloeosporium sp. adalah daun
bercak coklat dengan pola bervariasi. Penggunaan mikroorganisme sebagai agen
biokontrol merupakan alternatif yang berpotensi tinggi dalam menangani penyakit
tanaman (Kulkarni et al. 2007). Trichoderma sp. merupakan salah satu
mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agen biokontrol. Beberapa cendawan
fitopatogen yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma sp. antara lain Fusarium
spp., Lentinus Lepidus, Phytium spp., Botrytis cinerea, Gloeosporium
gloeosporoides, Rigidoporus lignosis, Sclerotium roflsii, dan Phytopthora
palminovora (Benitez et al. 2004; Sunantapongsuk et al. 2006; Zeilinger dan
Omann 2007).
![]() |
| Colletotrichum sp. |
Penggunaan Trichoderma sp. sebagai agen biokontrol memiliki
beberapa kelebihan, yaitu pertumbuhannya cepat, kapasitas reproduksi yang
tinggi, spektrum penghambatan yang luas terhadap cendawan patogen, keragaman
mekanisme penghambatan, kemampuan bertahan hidup yang tinggi dalam kondisi
kurang nutrisi, dan menginduksi pertumbuhan tanaman (Benitez et al. 2004; Vinale
et al. 2006).
Aplikasi
Trichoderma sp terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Ditebar Saat Pengolahan Tanah
Ditebar
bersama pupuk dasar (Pupuk Kandang) diatas lahan yang setengah jadi atau baru
diolah. Dosisnya kurang lebih 500 Kg/ Ha atau pertanaman 20-25 gram. Dengan perlakuan
tersebut harapannya adalah jamur-jamur yang menular melalui tanah (soil borne
deseases) dapat dimatikan sebelum tanaman ditanam di lahan.
2. Menaburkan Pada Lubang Tanam
Aplikasi
Trichoderma sp dengan menaburkan pada lubang tanam ini dilakukan saat
pemindahan bibit yang akan ditanam dilahan. Setiap lubang diberikan Trichoderma
sp dalam bentuk kapsul yang ditaburkan pada lubang tanam kemudian tanaman yang
diusahakan ditanam pada lubang tersebut. Jaddi, Trichoderma sp secara
tidaklangsung melindungi bagian akar tanaman agar tidak terserang penyakit
khususnya yang disebabkan jamur yang menular mealui tanah.
3. Dikocor Pada Saat Menyiram
Tanaman
Pengocoran
dilakukan saat menyiram tanaman khususnya tanaman yang masih muda dan berumur
10 HST. Pemberian perlakuan ini dilakukan setiap 10 hari sekali selama 4 kali
pemberian. Dosis yang digunakan adalah 5 gram/250 ml air.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar